
Kemenangan Jaka Siswanto dibaca sebagai harapan baru bagi konsolidasi organisasi, sekaligus penegasan bahwa PAMDI Sidoarjo menginginkan kepemimpinan yang teguh menjaga ideologi dangdut bermartabat.
PAMDI: Bukan Sekadar Organisasi, Tapi Gerakan Perjuangan,
Pelaksana Tugas (PLT) Ketua DPC PAMDI Kabupaten Sidoarjo, Ayunda Goba Maksum, dalam sambutannya menegaskan bahwa PAMDI lahir bukan untuk mengejar popularitas semata, melainkan untuk menjaga ruh dangdut sebagai seni rakyat.
“PAMDI didirikan oleh Bang Haji Rhoma Irama bukan hanya untuk mengorganisasi artis, tetapi untuk menjaga dangdut agar tidak kehilangan jati diri. Dangdut harus tetap menjadi seni yang mendidik, menghibur dengan adab, dan berpihak kepada rakyat,” tegas Ayunda.
Menurutnya, Muscab adalah momentum strategis untuk menyatukan kembali barisan seniman dangdut di bawah satu komando ideologis, bukan terpecah oleh kepentingan sesaat.
Jaka Siswanto: Dangdut Adalah Suara Nurani Rakyat
Usai dinyatakan terpilih, Jaka Siswanto, S.Pd menyampaikan pidato yang menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah dengan menjadikan pemikiran dan keteladanan H. Rhoma Irama sebagai kompas perjuangan.
“Sejak awal Bang Haji Rhoma Irama mengajarkan bahwa dangdut bukan musik kosong nilai. Dangdut adalah suara nurani rakyat, sarana dakwah sosial, media pendidikan moral, dan alat pemersatu bangsa. Inilah ideologi PAMDI yang akan kami jaga di Sidoarjo,” ujar Jaka dengan tegas.

Ia menekankan bahwa tantangan dunia dangdut hari ini bukan pada popularitas, melainkan pada krisis nilai. Karena itu, PAMDI harus berdiri di garis terdepan untuk melawan degradasi moral dalam industri hiburan.
“Kami menolak dangdut yang menjual sensasi murahan dan merendahkan martabat perempuan. Kami memperjuangkan dangdut yang beretika, berbudaya, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” tambahnya.
Merangkul, Membina, dan Melindungi Artis Dangdut
Lebih lanjut, Jaka Siswanto menegaskan bahwa kepemimpinannya akan mengedepankan persatuan pasca-Muscab. Tidak ada ruang untuk perpecahan.
“PAMDI adalah rumah besar. Setelah pemilihan ini, tidak ada lagi kubu-kubuan. Semua adalah satu barisan perjuangan seniman dangdut,” katanya.
Program ke depan akan difokuskan pada pembinaan generasi muda dangdut, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan artis, serta penguatan etika panggung agar dangdut tetap menjadi kebanggaan budaya bangsa.
Program ke depan akan difokuskan pada pembinaan generasi muda dangdut, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan artis, serta penguatan etika panggung agar dangdut tetap menjadi kebanggaan budaya bangsa.
Sidoarjo sebagai Garda Ideologis Dangdut Jawa Timur
Dengan kepemimpinan baru ini, DPC PAMDI Kabupaten Sidoarjo diharapkan menjadi contoh dan garda ideologis PAMDI di Jawa Timur, sekaligus benteng budaya di tengah derasnya arus komersialisasi hiburan.
Muscab DPC PAMDI Sidoarjo membuktikan bahwa dangdut tidak kehilangan arah. Dari Sidoarjo, kembali ditegaskan bahwa dangdut bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan, sebagaimana visi besar H. Rhoma Irama: dangdut yang bermartabat, berakhlak, dan berkepribadian Indonesia.


