banner 728x250
Daerah  

INSAN DANGDUT JAWA TIMUR Resmi Berdiri, Dari Ruang Perawatan Menuju Panggung Dunia

SIDOARJO, 4 Maret 2026 – Sebuah peristiwa yang sarat makna terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Di tengah suasana haru dan keprihatinan karena salah satu pendirinya tengah menjalani perawatan medis, proses penandatanganan legalitas organisasi INSAN DANGDUT JAWA TIMUR (IDJ) tetap dilaksanakan. Momentum tersebut menjadi simbol kuat bahwa dedikasi terhadap seni dan budaya tak pernah surut, bahkan dalam situasi sulit sekalipun.

Penandatanganan akta pendirian dilakukan di hadapan notaris Achmad Syaiful Rizal, SH, yang secara resmi mengesahkan berdirinya IDJ sebagai organisasi berbadan hukum. Dengan legalitas tersebut, IDJ kini memiliki dasar formal untuk menjalankan program-program pembinaan dan pemberdayaan seniman dangdut di Jawa Timur.

INSAN DANGDUT JAWA TIMUR didirikan oleh Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi, Thahirah Azzah Zhafirah, dan Lailul Chamdiyah Maksum (yang dikenal dengan sapaan Ayunda Goba Maksum). Ketiganya memiliki latar belakang dan pengalaman panjang di dunia hiburan, khususnya dangdut.


Menurut para pendiri, gagasan membentuk organisasi ini muncul dari realitas yang mereka temui di lapangan. Banyak penyanyi dan pelaku seni dangdut yang bekerja tanpa perlindungan hukum yang memadai, minim akses pelatihan profesional, serta menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan.

Dangdut sebagai musik populer yang tumbuh dari akar budaya masyarakat, dinilai memiliki potensi besar bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai industri kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan pelakunya jika dikelola secara profesional.

IDJ membawa visi membangun ekosistem dangdut yang lebih terstruktur dan berdaya saing. Beberapa fokus utama organisasi ini antara lain:


Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan vokal, manajemen panggung, serta etika profesi bagi penyanyi dan kru.

Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, termasuk Event Organizer (EO) dan manajer artis.

Mengembangkan riset serta kajian budaya dangdut sebagai bagian dari warisan seni daerah.

Menginisiasi program sosial dan kegiatan budaya untuk memperkuat solidaritas antar-seniman.

Mendorong kemandirian ekonomi melalui jejaring kerja sama dan peluang usaha.

Membuka akses promosi agar dangdut Jawa Timur mampu tampil di level nasional hingga internasional.


Ketua IDJ, Lailul Chamdiyah Maksum, menyatakan bahwa organisasi ini ingin menghadirkan standar profesional yang lebih jelas dalam dunia pertunjukan dangdut. Ia menegaskan pentingnya manajemen yang baik, transparansi kerja sama, serta peningkatan kualitas musikalitas agar dangdut semakin dihargai sebagai seni yang bermartabat.

 

Sementara itu, Pembina IDJ, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi, menyampaikan bahwa organisasi ini lahir dari panggilan hati. Ia berharap IDJ menjadi wadah perlindungan dan advokasi bagi para seniman agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam industri hiburan.

Sebagai bentuk kesiapan operasional, IDJ telah membentuk struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Sidoarjo.

Pembina: Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi
Ketua: Lailul Chamdiyah Maksum
Sekretaris: Chandra Likayana, S.Pd
Pengawas: Dwi Cahyo
Bendahara: Thahirah Azzah Zhafirah

Ketua: Chandra Likayana, S.Pd
Sekretaris: Alwan Suyuti
Bendahara: Stefani, SH
Penasihat: H. Syamsul Huda, SH, M.H
Penasihat: Hj. Erna Zaelani

Basecamp IDJ berlokasi di wilayah Gelam Candi, Kabupaten Sidoarjo, yang akan difungsikan sebagai pusat koordinasi kegiatan, pelatihan, dan konsolidasi anggota.

Sebagai langkah sosialisasi kepada masyarakat luas, IDJ merencanakan deklarasi dan peluncuran resmi organisasi di GOR Delta Sidoarjo. Acara tersebut diproyeksikan menjadi momentum konsolidasi lintas generasi seniman dangdut, sekaligus ruang pertunjukan dan dialog budaya.


Sejumlah pengamat seni di Jawa Timur menilai kehadiran IDJ sebagai langkah positif, terutama jika mampu menghadirkan program yang konsisten dan transparan. Tantangan ke depan tentu tidak ringan, mulai dari membangun solidaritas internal hingga memastikan keberlanjutan pendanaan organisasi.

Namun demikian, lahirnya IDJ di tengah situasi yang penuh ujian memberikan pesan moral tersendiri: bahwa seni dan kebudayaan tumbuh dari keteguhan hati. Dari ruang perawatan rumah sakit di Sidoarjo, sebuah gerakan kolektif dimulai—membawa harapan agar dangdut Jawa Timur tidak hanya berjaya di panggung lokal, tetapi juga bersinar di kancah nasional dan internasional.

 

Masyarakat kini menantikan realisasi program kerja yang konkret. Jika komitmen dan konsistensi terjaga, INSAN DANGDUT JAWA TIMUR berpeluang menjadi tonggak baru dalam perjalanan musik dangdut sebagai identitas budaya yang berprestasi dan bermartabat.

Catatan Redaksi: Foto yang menyertai berita ini ditampilkan tanpa blur sesuai permintaan pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *