banner 728x250
Daerah  

Seleksi SMAN Plus Riau Kian Ketat: 400 Peserta Lanjut Tes Kesehatan, Sistem Baru Diterapkan

PEKANBARU – Proses seleksi penerimaan peserta didik baru di SMA Negeri Plus Riau tahun ajaran 2026 memasuki tahap lanjutan dengan persaingan yang semakin ketat. Dari total 488 peserta yang mengikuti Tes Potensi Akademik (TPA), sebanyak 400 peserta dinyatakan lolos dan berhak melanjutkan ke tahap tes kesehatan.

Tahap tes kesehatan tersebut mulai digelar pada Jumat, 10 April 2026, dan dipusatkan di RSUD Arifin Achmad. Pelaksanaan tahun ini mengusung sistem baru dengan pembagian jadwal yang lebih terstruktur guna menghindari penumpukan peserta.

Kepala sekolah, Edi Sutono, menjelaskan bahwa panitia telah menyiapkan skema pelaksanaan yang lebih rapi dibanding tahun sebelumnya.

“Penjadwalan sudah diatur sejak awal agar peserta dan orang tua tidak datang bersamaan dalam satu waktu,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).

Sebanyak 400 peserta dibagi ke dalam tiga sesi pelaksanaan. Sesi pertama diikuti 135 peserta pada Jumat (10 April), sesi kedua 135 peserta pada Sabtu (11 April), dan sesi ketiga sebanyak 130 peserta pada Minggu (12 April 2026).

Selain tes kesehatan, peserta juga akan menjalani tahapan seleksi lainnya secara bergantian, seperti psikotes, tes fisik, kemampuan komunikasi Bahasa Inggris, hingga wawancara pengetahuan umum dan pendalaman agama. Skema ini diterapkan agar seluruh peserta tetap mengikuti semua tahapan secara menyeluruh.

Sebelumnya, pendaftaran seleksi telah dibuka secara daring melalui Dinas Pendidikan Provinsi Riau sejak 2 hingga 25 Maret 2026. Tingginya minat masyarakat tercermin dari jumlah pendaftar yang mencapai 1.040 orang, berasal dari berbagai kabupaten/kota di Riau hingga luar provinsi.

Kota Pekanbaru tercatat sebagai penyumbang pendaftar terbanyak dengan 314 orang, disusul Kampar (167), Rokan Hulu (85), Dumai (81), Siak (73), dan Bengkalis (71). Sementara itu, peserta dari luar Provinsi Riau mencapai 38 orang.

Pelaksanaan TPA sendiri menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) berbasis jaringan lokal tanpa koneksi internet. Kebijakan ini diambil untuk menjaga integritas dan transparansi selama ujian berlangsung.

“Seluruh akses internet dimatikan saat ujian untuk memastikan proses seleksi berjalan objektif dan bebas dari kecurangan,” tegas Edi.

Seleksi ini bertujuan menjaring calon siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, religius, serta mampu bersaing di tingkat global. Peserta yang tidak lolos pada tahap TPA otomatis gugur, sementara peserta yang lolos akan terus mengikuti rangkaian seleksi hingga penentuan akhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *