
Menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya identik dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, kondisi berbeda justru terlihat di sejumlah pusat perdagangan tradisional. Di Pasar Induk Bondowoso, geliat jual beli yang biasanya memuncak pada akhir Ramadan tampak tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Para pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli, bahkan hingga mendekati H-1 Lebaran.
Nur Salim, seorang pedagang asal Sumenep, Madura, menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak tersebut. Ia mengaku tahun ini tidak dapat mudik lebih awal seperti kebiasaannya. “Biasanya dua hari sebelum Lebaran saya sudah pulang ke Sumenep. Tapi sekarang, sudah tiga tahun ini saya tidak mudik sebelum Lebaran,” ujarnya.
Nur telah lama merantau ke Jawa, mengikuti jejak orang tuanya yang lebih dulu berjualan kacamata dan jam tangan. Usaha tersebut kini ia jalankan sendiri setelah kedua orang tuanya wafat. Dalam tiga tahun terakhir, ia memilih pulang kampung setelah Lebaran, bukan sebelumnya, menyesuaikan dengan kondisi usaha yang tidak menentu.
“Jualan sekarang sepi, banyak pembeli beralih ke online. Padahal besok sudah Lebaran,” ungkap Nur dengan raut wajah yang tidak sumringah.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh pedagang lain di kawasan pasar. Lapak-lapak di sepanjang trotoar dan emperan yang biasanya dipadati pembeli, kini terlihat lebih lengang. Beberapa pedagang menyebut bahwa meskipun tetap ada transaksi, jumlahnya tidak mengalami lonjakan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab kondisi ini. Selain pergeseran pola belanja masyarakat ke platform daring, faktor daya beli yang melemah juga turut memengaruhi. Kenaikan harga kebutuhan pokok di beberapa sektor membuat masyarakat lebih selektif dalam berbelanja, termasuk dalam memenuhi kebutuhan Lebaran.
Namun demikian, tidak semua pedagang melihat situasi ini secara sepenuhnya negatif. Sebagian menganggap kondisi ini sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Ada yang mulai mencoba memasarkan dagangan melalui media sosial atau aplikasi pesan, meski masih dalam skala terbatas.
Di sisi lain, pengamat ekonomi menilai fenomena ini merupakan bagian dari dinamika perubahan sistem perdagangan. Transformasi digital membawa dampak besar terhadap pasar tradisional, sehingga pelaku usaha perlu melakukan inovasi agar tetap bertahan dan bersaing.
Meski harapan untuk meraih keuntungan besar di bulan Ramadan belum terwujud sepenuhnya, para pedagang tetap berusaha menerima keadaan dengan lapang dada. Mereka meyakini bahwa setiap usaha memiliki hasil yang telah diatur.
“Yang penting tetap bersyukur, rezeki sudah ada yang mengatur,” ujar salah satu pedagang lainnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang lesu, para pedagang berharap ke depan situasi akan membaik. Mereka juga berharap momen Lebaran tetap membawa kebahagiaan, tidak hanya dari sisi materi, tetapi juga dari kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, meskipun harus dilakukan setelah hari raya usai.

(RED)IqBAL)


