
Sindikat.i news site PT media groub globalindo – Di tengah gemerlap pembangunan Kota Surabaya, sebuah potret pilu datang dari sudut wilayah Kelurahan Kejawan Putih Tambak, Kecamatan Mulyorejo. Seorang kakek lanjut usia diketahui hidup sebatang kara di sebuah gubuk yang jauh dari kata layak. Selama kurang lebih 10 tahun menetap di kota ini, ia kini harus menghadapi kenyataan pahit: sakit tanpa perawatan dan kelaparan selama tiga hari terakhir tanpa bantuan siapa pun.
Kondisi fisiknya yang semakin melemah diperparah dengan keterbatasan ekonomi yang membuatnya tak mampu memenuhi kebutuhan dasar. Tanpa keluarga atau kerabat yang mendampingi, hari-harinya dilalui dalam kesunyian dan keterbatasan, seolah luput dari perhatian lingkungan sekitar maupun pihak berwenang.
Kisah ini memantik keprihatinan publik. Musawwi, Ketua SAPURA, menilai peristiwa tersebut sebagai cerminan adanya dugaan kelalaian dari pemerintah setempat. Ia menyoroti pentingnya kehadiran negara dalam menjamin kesejahteraan warga, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia yang hidup sendiri.
Menurutnya, sistem pendataan dan pengawasan sosial perlu diperkuat agar tidak ada lagi warga yang terabaikan dalam kondisi darurat. Ia juga mendesak agar Pemerintah Kota Surabaya dan instansi terkait segera turun tangan memberikan bantuan medis, pangan, serta tempat tinggal yang layak bagi kakek tersebut.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bahwa di balik kemajuan sebuah kota besar, masih tersimpan persoalan sosial yang mendesak untuk diselesaikan. Kepedulian dan respons cepat dari semua pihak, terutama pemerintah, sangat dibutuhkan agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.


